Jumat, 18 Desember 2015

Bercerita

Selalu menyenangkan mengobrol denganmu. Kamu orang tersabar yang selalu setia mendengarkan cerita-ceritaku. Entah itu penting maupun tidak, entah itu keresahan atau keluhan. Sedari dulu sampai sekarang, saat masih menjadi kekasih maupun tidak. Sewaktu siang bolong ataupun dini hari.
Katamu, aku bercerita dengan sangat baik. Kalau ceritaku lucu, kamu tertawa. Kalau aku bercerita sesuatu yang menyedihkan, kamu turut sedih. Kalau aku bercerita tentang masa depan, kamu dengan khusuk mengamini.
Semua hal yang terjadi padaku, baik itu masa lalu sebelum kita bertemu ataupun yang terjadi saat kita tak lagi bersama, semuanya pernah ku ceritakan padamu. Semua hal tentang sisi gelap diriku pun sudah kuceritakan padamu. Kalau satu tahun ada 365 hari, 350 hari itu aku ceritakan padamu.
Bagiku cerita tentangku adalah harta karun, jadi singkatnya kamu sangat tau tentang apa saja harta karun dalam hidupku. Namun ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan. Bahwa aku selalu jatuh cinta padamu, setiap kali bercerita padamu.

Jumat, 04 Desember 2015

Sendiri yang Baik

Sendiri, kata sifat tersebut sering melekat pada diriku beberapa lama ini. Ya, menjadi sendiri atau sendirian terjadi begitu saja semenjak aku berpisah dengan kekasihku. Sebelum aku bercerita bagaimana aku menjadi sendiri, maka akan aku ceritakan hubunganku dengan mantan kekasihku, yang abadi di dalam hati dan pikir.
Awalnya kami hanya teman biasa yang berjumpa saat hari pertama sekolah di salah satu SMA Negeri di kotaku. Ingat betul waktu itu ia datang dengan rambut yang belum disisir, dan lari tergesa-gesa. Entah apa yang dilakukan oleh semesta pada saat itu, tiba-tiba ia menabrak tubuhku karna langkahnya yang tergesa. Aku yang aslinya bisa dengan mudah marah padanya karna tabrakan itu, kali ini aku tak mampu. Karna melihat matanya. Di dalam matanya entah apa, begitu sejuk dan damai.
Semenjak itulah baru ku tahu namanya, Widhi. Entah apa lagi yang dilakukan oleh semesta, aku dan Widhi sama-sama di tempatkan di kelas X-B. Karna tidak ada anak lain yang ku kenal selain Widhi, maka ku beranikan bertanya "Kamu duduk di bangku mana?" sambil tersenyum ia menjawab "Di dekat jendela situ, masih sendiri sih." Suaranya tenang. "Boleh aku duduk di sampingmu, Wid?" tanyaku lagi. "Ya, silahkan."
Semenjak itu aku menghabiskan dua semester pertama di masa SMAku bersama Widhi. Bahkan, semester-semester berikutnya kami masih menjadi teman sekelas sekaligus teman sebangku. Pada waktu itu, belum banyak perasaanku yang tumbuh padanya. Kecuali perasaan nyaman karna Widhi sangat perhatian dan selalu menjagaku dari godaan-godaan ala anak SMA di sekitarku.
Banyak hal yang sudah terjadi selama dua tahun pertemanan kami. Kami sama-sama menyukai pelajaran Kimia, bahkan sempat mengikuti kompetisi olimpiade Kimia tingkat Kabupaten, yang kandas karena mules menyerangku sehingga aku tidak dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan itu, dan tentu saja Widhi menemaniku dari luar kamar mandi sekolah. Jadi, kami berdua sama-sama tidak menyelesaikan kompetisi tersebut. Kami juga sama-sama lemah dalam pelajaran Fisika, sehingga sering belajar bersama selepas jam sekolah. Ya, walapun waktu belajar bersama itu habis karna kami kelamaan makan es krim atau bermain hujan. Oya, Widhi juga dengan sabar mengajariku berlatih memainkan gitar, yang ku balas dengan mengajarinya berlatih basket di lapangan samping rumahku.
Banyak cerita pula yang sudah tersampaikan, bahwa ia berasal dari keluarga yang kurang beruntung, Ayahnya kabur meninggalkan Widhi dan Ibunya saat Widhi berusia sembilan tahun. Widhi pun sabar mendengarkan ceritaku mengenai betapa aku menyukai es krim, bunga matahari, dan balon, yang sering ku ceritakan berulang kali. Widhi adalah pendengar satu-satunya mengenai kakak kelas yang ku pacari, Mas Aji. Bahkan Widhi berani memukul wajah Mas Aji ketika tau aku menangis karnanya. Hahaha, ada-ada saja problema percintaan anak SMA.
Selain cerita, ada pula cita-cita yang kami bagi bersama. Widhi bercita-cita untuk menjadi seorang dokter gigi dikemudian hari, yang membuatnya tekun belajar. Sedangkan aku bercita-cita untuk menjadi dokter anak karena kecintaanku pada anak-anak. Berkat itu lah, kami sama-sama berjuang bersama, bekerja keras dan saling men-support satu sama lain. Dan membawa namanya dalam doa.
Tahun ke-tiga di bangku SMA adalah masa-masa tersulit, di mana aku harus berjuang agar dapat lulus dari SMA ini dan mendapatkan perguruan tinggi terbaik. Masa-masa sulit itu menjadi tidak sulit bila dihabiskan bersama dengan Widhi. Suatu hari, di kelas matematika, ia berbisik "Tiva, gimana ya kita beberapa waktu ke depan?" karna aku begitu serius dengan soal integral, aku hanya menganggap itu pertanyaan biasa saja dan menjawab "Baik-baik aja." Aku sebenarnya tidak begitu paham apa arti pertanyaan itu.
Sampai pada suatu sore, di lapangan basket samping rumahku, kami berbaring lelah selepas berlatih basket. Kemudian tiba-tiba ada keresahan yang timbul. “Widhi, kita masih bisa sama-sama kayak gini nggak ya kalau udah selesai SMA?” tanyaku sambil membalikan tubuh ke arahnya. “Hmm. Kamu maunya gimana?” Widhi balik bertanya. “Ya aku maunya kita masih bisa sama-sama kayak gini. Emang kamu nggak mau kita sama-sama?” Aku mulai kesal. Kemudian Widhi ikut membalikan badan ke arahku sehingga kami saling berhadapan sekarang. “Aku satu-satunya yang paling ingin kita terus bersama-sama, Va.” Aku terdiam. “Aku ingin megabadikan kita dalam hubungan lebih dari selama ini.” Aku tertawa, aku geli mendengar kata-kata itu. Tapi matanya yang menatapku serius membuatku berhenti tertawa dan mencoba mencerna pernyataannya itu.
Karna Widhi tidak tahan lagi menunggu responku terhadap pernyataannya itu, ia bangkit dan menarikku. “Ayo pulang, udah sore.” Aku masih saja diam dan mengikutinya dari belakang. Tanganku digengam. “Tiva, lihat, tanganmu sangat pas ya di dalam genggamanku.” Aku masih diam. Widhi gemas karna diamku. “Dasar otak batu, nggak ngerti kalu lagi digombalin.” Katanya bersungut-sungut. “Udahlah ya, nggak usah pakai ditanya lagi, pokoknya aku mau kamu jadi pacarku.” Lanjutnya, aku berhenti melangkah. “Kenapa berhenti?” tanyanya terkejut. “Ya walaupun aku nggak paham kalau lagi digombalin, aku juga pengen sih ‘ditembak’ kayak di tivi-tivi itu.” Kataku. “Nggak usah, udah gini aja, mulai sekarang kamu pacarku, aku pacarmu ya.” Jelasnya yang kusambut anggukan kepala. Dari situ aku tahu, bahwa cinta tidak butuh bunga atau puisi, cinta hanya butuh kejujuran dan keberanian.
Semenjak sore itu kami resmi berpacaran. Tidak ada banyak yang berubah dari pertemanan kami sebelunya, selain tiap malam aku menerima ucapan selamat tidur selain dari orang tuaku. Selain tiap pagi Widhi menghampiriku untuk berangkat kesekolah bersama-sama. Namun yang paling indah adalah, kami semakin bersemangat untuk menyelesaikan masa SMA kami dan berjuang untuk dapat diterima di universitas terbaik. Kami berjuang bersama-sama.
Entah apa yang terjadi pada semesta, aku dan Widhi sama-sama tidak diterima di universitas yang kami daftar, jurusan yang kami pilih pun ditolak. Air mata dan kesal keluar begitu saja dari tubuhku, tapi tangan Widhi yang memelukku perlahan menyembuhkan kekecewaanku. “Kita coba lagi, sama-sama” Katanya.
Kali ini semesta kembali berpihak kepada kami berdua. Kami akhirnya diterima di univeristas unggulan itu, walaupun tidak sesuai dengan jurusan yang kami pilih pertama kali. Aku diterima di jurusan Ilmu Hukum sedangkan Widhi di jurusan Teknik Sipil. Kami mendapatkan apa yang kami perjuangkan bersama.
Empat tahun lebih bersama-sama bukanlah hal yang bisa saja, apalagi setahun terakhir hubungan kami berubah lebih dari sekedar teman. Kesibukan di awal-awal masa perkulihan sama sekali tidak menurunkan kepercayaan kami terhadap satu sama lain. Kami masih bisa berbagi cerita dan cinta, berlatih gitar atau pun basket. Banyak hal baru yang ku coba untuk membuatnya bangga pdaku, salah satunya mengikuti kompetisi nasional yang ku menangkan.
Namun, memasuki semester ke empat di bangku perkulihan, tiba-tiba saja banyak hal berubah. Kali ini aku tidak lagi bertanya apa yang terjadi pada semesta. Entah kenapa, rasa kepercayaanku terhadap Widhi yang sangat tinggi yang malah membuat hubungan kita menjauh. Aku berteori bahwa telah lebih dari empat tahun bersama-sama harusnya soal percaya bukanlah hal yang sulit. Kehidupan perkuliahanku yang sangat sibuk membuatku jarang sekali menghubunginya bahkan untuk bertemupun hanya di hari Minggu. Apalagi kehidupan mahasiswa Teknik Sipil, sepertinya dua puluh empat jam dalam sehari kurang bagi Widhi. Karena itu, karena jarang kami bersama, aku tahu Widhi banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman jurusannya. Aku senang Widhi menemukan teman saat aku tidak bisa menemani, tapi perasaan curiga atau cemburu kadang menghampiriku. Aku masih berpikir positif karena berteman dengan siapa saja adalah siklus hidup mahasiswa.
Satu semester terakhir, ucapan selamat tidur jarang sekali terucap. Bahkan hari Minggu di mana satu-satunya hari kita dapat berjumpa pun tidak memberi kesempatan untuk kita berdua. Kemudian aku menjalani kehidupanku sendirian. Banyak cerita yang tak terucap, banyak tegur yang tak tersapa. Namun aku sering kali mendengar ia salah menyebut namaku, Cynthia waktu itu. Tidak perlu ku ambil pusing, mungkin Cynthia teman kuliahnya.
Di balik semua itu, banyak pencapaian dalam hidupku yang tidak ia ketahui. Tiba-tiba saja kau terbiasa berjuang sendirian. Bersamaan dengan hujan lebat di bulan November, Widhi mengirimkan pesan singkat:
“Tiva, apa sih kita ini sekarang? Aku capek sendirian, padahal tidak semestinya sendirian.”
Pesan singkat itu menambah badai pada hari itu. Ku balas:
“Aku lebih capek, Wid. Aku berjuang sendirian.”
Setengah jam kemudian, Widhi membalas.
“Tiva, maafkan aku, lebih baik kita sendiri-sendiri aja. Apa gunanya kita bersama-sama walaupun pada akhirnya sendiri. Berjuanglah, Tiva.” Sesederhana Widhi memintaku jadi pacarnya saat itu, sesederhana pula ia mengakhirinya.
Aku tahu baik bagaimana seorang Widhi, keputusan yang ia ambil bukanlah sekedar karna emosi, pasti telah berulang kali ia pikirkan. Aku hanya meng-iya-kan pesan singkat itu sekaligus setuju dengan keputusannya. Hujan air mata pecah. Banyak rekaman berputar di kepala tentang empat tahun lebih terakhir.

Di suatu malam, aku tersadar, bahwa aku telah menjadi sendiri jauh sebelum hubunganku dengan Widhi berakhir. Ternyata aku sendirian yang mengagumi Widhi saat pertama kali bertemu, di saat Widhi belum begitu melihat apalah aku ini. Ternyata aku sendirian yang mempertahankan hubungan pertemanan kami dengan tidak mudah jatuh cinta pada Widhi, di saat berkali-kali Widhi membuatku hanyut dalam perhatiannya. Ternyata aku sendirian yang berjuang untuk menjadi pacar yang baik untuk Widhi, disaat di luar sana Widhi jatuh cinta berkali-kali pada setiap perempuan cantik. Ternyata aku pula yang selalu sendirian jatuh cinta pada Widhi, disaat Widhi berkali-kali mencari alasan-asalan untuk berhenti mencintaiku.

Tanpa disadari, sendiri berubah menjadi hal yang baik. Sendiri memberiku kesempatan untuk menjadi diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Sendiri memberiku waktu untuk menyembuhkan luka. Banyak hal yang dapat aku pelajari dan ku pahami di saat sendiri. Bahwa sendirian mengagumi seseorang adalah baik karena selalu mendoakan orang tersebut. Bahwa sendirian untuk mencoba tidak jatuh cinta pada Widhi adalah baik, karena berusaha untuk tidak merusak hubungan pertemanan secara terburu-buru hanya karna cinta. Bahwa menjadi jatuh cinta sendirian pada Widhi adalah baik karena aku menjadi pribadi yang penuh kasih dalam mencintai seseorang.

Mungkin saja Widhi lupa bahwa dulu pernah ada seseorang yang menemaninya dan berjuang bersamanya, mulai dari bocah SMA sampai saat ini. Bahwa lima tahun berjuang bersama tidak cukup membuat Widhi bahagia, hingga Widhi jatuh cinta pada orang lain. Namun di balik itu, ada kebaikan yang tertorehkan. Kami, khususnya aku belajar apa itu berjuang dan bagaimana itu berjuang, serta percaya betapa luar biasanya semesta dan waktu bekerja.

Karena di setiap peristiwa yang gagal, selalu ada kebaikan yang dapat disimpan, untuk bekal di kemudian hari. Terimakasih Widhi, see you on top.

Sativa Koeswojo

Yogyakarta, 5 Desember 2015, 3:58 WIB.

Rabu, 02 Desember 2015

Halo!

Sudah lama tidak menulis di sini, bukan berarti aku berhenti menulis. Sebenarnya, sejak blog ini lahir, tidak banyak yang dituliskan di sini. Bukan apa-apa, hanya saja aku lebih nyaman menyimpan tulisan-tulisanku di folder laptop.
Kenapa kembali lagi? Jujur saja, beberapa hari terakhir ini ada seorang teman yang menunjukkan tulisan-tulisannya, bagus, ku baca banyak hampir semuanya. Dari situ, aku berniat untuk ya setidaknya menambahkan beberapa tulisan disini. Bukan apa-apa, hanya merawat apa yang sudah ditanam.
Bagiku menulis sama halnya dengan mempotret, membuat kenangan menjadi abadi. Jadi bagiku menulis adalah mengabadikan yang tak bisa diabadikan oleh ingatan.
Sepertinya akan banyak yang mulai aku tuliskan disini, semoga abadi.

Terimakasih kepada seorang teman yang membangkitkan semangat nge-blog!